Dari Ruang Sidang ke Alam Lawu, Mahasiswa HKI UMM Temukan Makna Hukum dan Kehidupan

Magetan – Tiga mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelesaikan program magang di Pengadilan Agama (PA) Magetan selama satu bulan, terhitung sejak 4 Agustus hingga 4 September 2025. Mereka adalah Izza El-Dien, Muhammad Ilham, dan Salman Roihan, mahasiswa semester tujuh yang tengah menapaki pengalaman profesional di ranah praktik hukum Islam. Selama magang, para mahasiswa terlibat langsung dalam beragam aktivitas pengadilan, mulai dari mengikuti persidangan perkara perceraian, sengketa harta bersama, hingga hak asuh anak. Mereka juga mempelajari administrasi kepaniteraan, mencakup pencatatan perkara, penyusunan berkas sidang, serta tata cara pembuatan akta cerai. Diskusi intensif bersama hakim dan staf pengadilan turut memperkaya pemahaman mereka tentang penerapan hukum keluarga Islam di Indonesia. “Pengalaman ini membuka pandangan baru bagi kami. Apa yang dipelajari di ruang kuliah terasa hidup ketika melihat langsung bagaimana hukum Islam dijalankan dalam penyelesaian sengketa,” ungkap salah satu mahasiswa. Di sela kegiatan, ketiganya memanfaatkan waktu akhir pekan untuk menjelajahi keindahan alam Magetan dengan mendaki Gunung Lawu dan Bukit Mongkrang. Bagi mereka, aktivitas tersebut bukan hanya sekadar penyegaran, tetapi juga ruang kontemplasi. “Naik Gunung Lawu menenangkan pikiran. Di puncak, kami merenungi kembali hakikat keadilan dan tanggung jawab sebagai calon sarjana hukum Islam,” tutur Salman Roihan. Sementara itu, Muhammad Ilham menambahkan bahwa kegiatan alam memberi keseimbangan dalam proses belajar. “Belajar hukum itu berat, tapi dengan momen refleksi seperti ini, semuanya terasa lebih bermakna,” ujarnya. Pihak PA Magetan memberikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa HKI UMM. Miftakul Khoriyah, S.H.I., M.H., dosen pamong sekaligus hakim, menilai ketiganya memiliki semangat belajar yang tinggi serta cepat beradaptasi. “Magang ini bukan hanya soal teknis hukum, tetapi juga pembentukan karakter dan kepekaan sosial,” tegasnya. Kegiatan magang ini menjadi langkah konkret Prodi HKI UMM dalam menjembatani teori dan praktik, sekaligus memperkuat integritas, etika, dan tanggung jawab sosial mahasiswa. Dari ruang sidang hingga puncak Lawu, mahasiswa HKI UMM membawa pulang ilmu sekaligus pengalaman hidup berharga untuk meneguhkan peran mereka sebagai calon praktisi hukum Islam.(eldien)
Prodi Hukum Keluarga Islam UMM Resmi Terakreditasi Internasional FIBAA Tanpa Syarat

Malang – Prestasi membanggakan kembali diraih Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berdasarkan keputusan resmi dari Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA), Prodi HKI UMM berhasil memperoleh akreditasi internasional selama lima tahun ke depan tanpa syarat (unconditional accreditation). Keputusan ini diumumkan langsung oleh Komite Akreditasi dan Sertifikasi FIBAA. Dalam surat resminya, FIBAA menyampaikan bahwa Prodi HKI bersama seluruh program studi UMM pada Klaster 3 berhak menyandang FIBAA Quality Seal, sebuah pengakuan bergengsi yang menandakan standar mutu akademik, kurikulum, serta tata kelola pendidikan telah diakui secara global. “Pencapaian akreditasi internasional ini menjadi bukti bahwa HKI UMM memiliki kualitas akademik yang mampu bersaing di tingkat dunia. Kami berharap hal ini semakin memotivasi seluruh sivitas akademika dalam memberikan kontribusi terbaik untuk umat dan bangsa,” ungkap Kaprodi HKI UMM. Selanjutnya, FIBAA akan mengirimkan laporan akhir hasil akreditasi beserta sertifikat resmi kepada UMM, sebelum nantinya dipublikasikan melalui situs FIBAA dan Database of External Quality Assurance Results (DEQAR). Dengan raihan ini, Prodi HKI UMM semakin mempertegas posisinya sebagai pusat pendidikan hukum keluarga Islam yang unggul, bereputasi internasional, dan berdaya saing global. (nm)
Workshop Tugas Akhir Angkatan 2022 HKI UMM “Exploring the Methodology of Islamic Law Research” Kupas Tuntas Cara Menyusun Penelitian Hukum Islam yang Kuat dan Bermakna. – Copy – Copy

07 Malang (26 September 2025) – Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang, kembali menghadirkan kegiatan akademik inspiratif melalui workshop bertajuk “Exploring the Methodology of Islamic Law Research”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Jumat, 26 September 2025 bertempat di Aula Masjid Lantai 2 UMM, yang dipandu oleh Pemateri yaitu Bapak Tanzil Fawaiq Sayyaf. Workshop ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam tentang metodologi penelitian hukum Islam, khususnya dalam menghadapi penulisan tugas akhir. Narasumber menjelaskan secara sistematis mulai dari pengertian penelitian, tujuan penelitian, hingga langkah-langkah praktis menyusun latar belakang dan rumusan masalah. Dalam paparannya, Tanzil menekankan bahwa penelitian yang baik selalu berangkat dari masalah, bukan sekadar judul. Ia juga mengajak mahasiswa untuk lebih peka terhadap fenomena sosial, kritis membaca literatur, serta mampu menemukan celah penelitian (research gap) yang unik dan relevan. “Penelitian itu bukan hanya sekadar memenuhi syarat akademik. Tapi bagaimana kita berkontribusi menghadirkan solusi ilmiah bagi umat dan masyarakat,” ujar Pak Tanzil dalam sesi pemaparan. Selain itu, peserta juga diajak memahami perbedaan penelitian normatif dan empiris, serta pentingnya menyusun tinjauan pustaka untuk menghindari plagiasi dan memperkuat posisi penelitian. Workshop ini dikemas interaktif dengan sesi tanya jawab dan diskusi yang hangat, membuat suasana belajar menjadi hidup dan menyenangkan. Moderator acara, dalam penutupannya, memberikan apresiasi atas antusiasme peserta dan menegaskan kembali pesan penting dari kegiatan ini: “Jadilah peneliti yang haus akan kebenaran, berangkat dari rasa ingin tahu, dan selalu siap memberi manfaat lewat karya ilmiah kalian.” Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa HKI UMM semakin siap dalam merancang penelitian hukum Islam yang berkualitas, ilmiah, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.(nm)
Diskusi Seru Dosen HKI, Siapkan Kandidat Dekan FAI UMM 2025–2029
Malang, 4 September 2025 – Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) menggelar rapat dosen dalam rangka penjaringan bakal calon Dekan FAI UMM periode 2025–2029. Rapat dilaksanakan pada Kamis (4/9) di Ruang 507, dengan dihadiri oleh seluruh dosen Prodi HKI, baik secara luring maupun daring, sebanyak 13 orang. Agenda rapat ini merupakan bagian dari mekanisme internal fakultas untuk menyiapkan proses suksesi kepemimpinan yang lebih demokratis, terbuka, dan sesuai dengan tata aturan yang berlaku di Universitas Muhammadiyah Malang. Seluruh dosen diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan usulan terkait bakal calon yang dinilai layak memimpin FAI UMM ke depan. Dari hasil musyawarah, rapat memutuskan merekomendasikan beberapa nama bakal calon dekan yang telah memenuhi persyaratan dan menyatakan kesediaannya untuk maju dalam proses pemilihan. Keputusan ini diambil secara mufakat dengan mempertimbangkan aspek kompetensi akademik, pengalaman kepemimpinan, dan visi pengembangan fakultas ke depan. Ketua rapat menyampaikan bahwa penjaringan ini bukan sekadar prosedur formal, melainkan upaya membangun tradisi demokrasi di lingkungan akademik, khususnya di Fakultas Agama Islam UMM. Harapannya, proses yang dijalankan secara transparan ini mampu menghasilkan pemimpin yang dapat membawa FAI UMM semakin unggul, berdaya saing, serta berkontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan selesainya tahap penjaringan di tingkat program studi, nama-nama yang telah direkomendasikan akan diteruskan ke tahapan berikutnya sesuai mekanisme pemilihan dekan di Universitas Muhammadiyah Malang.
HKI Buka Pendaftaran Program KATAMM Kelas Takhassus Mubaligh Muhammadiyah Tahun Akademik 2025/2026
Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuka kesempatan bagi kader mubaligh dan mubalighat Muhammadiyah untuk mengikuti Program KATAMM (Kelas Takhassus Mubaligh Muhammadiyah) Tahun Akademik 2025/2026. Program ini dirancang guna mencetak dai Muhammadiyah yang berkompeten, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta siap mengembangkan dakwah Islam Wasathiyah dan Islam Berkemajuan. Pendaftaran dibuka mulai 15–25 Agustus 2025, dengan tahapan seleksi meliputi: Seleksi Administrasi: 26 Agustus 2025 Wawancara: 28 Agustus 2025 Pengumuman hasil seleksi: 30 Agustus 2025 Kurikulum KATAMM disusun secara khusus untuk memenuhi kompetensi mubaligh Muhammadiyah, dengan penguatan pada digitalisasi dakwah, Islam Wasathiyah, Islam Berkemajuan, tahsin, tahfidz, serta kemampuan bahasa Arab. Program ini dilaksanakan selama delapan semester (empat tahun) dengan sistem perkuliahan blended (daring dan luring sesuai konteks pembelajaran). Jumlah peserta dibatasi sebanyak 30 mahasiswa untuk masing-masing Program Studi, yakni Hukum Keluarga Islam (HKI) dan Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Biaya kuliah ditetapkan melalui skema Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp1.500.000 per semester. Dengan demikian, total biaya pendidikan selama masa studi delapan semester adalah Rp12.000.000. Adapun persyaratan bagi pendaftar meliputi: Scan asli ijazah dan transkrip nilai SMA/SMK atau sederajat, Scan asli KTP, Scan asli Kartu Anggota Muhammadiyah, Surat keterangan dari Majelis Tabligh PDM/PDA setempat yang menjelaskan bahwa pendaftar merupakan ustadz/ustadzah/mubaligh/mubalighat Muhammadiyah/Aisyiyah. Melalui program ini, UMM berkomitmen melahirkan generasi mubaligh Muhammadiyah yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga relevan dengan kebutuhan dakwah kontemporer. Program KATAMM diharapkan mampu memperkuat peran Muhammadiyah dalam menyiapkan kader dai yang mencerahkan, berkemajuan, dan berdaya saing global.
HKI UMM Buka Pendaftaran Beasiswa Program Pendidikan Ulama Tarjih Tahun Akademik 2025/2026
Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Studi Hukum Keluarga Islam resmi membuka pendaftaran Beasiswa Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) Tahun Akademik 2025/2026. Program ini bertujuan untuk mencetak kader ulama tarjih yang memiliki integritas, kompetensi akademik, serta komitmen dalam mengembangkan keilmuan Islam berkemajuan. Pendaftaran dibuka hingga 20 Agustus 2025 dan dilakukan secara daring. Peserta diwajibkan memilih Program Studi Hukum Keluarga Islam sebagai pilihan pertama pada jalur PPUT serta melakukan pembayaran biaya seleksi sebesar Rp400.000 melalui virtual account yang tersedia dalam sistem pendaftaran. Proses seleksi dilaksanakan dalam beberapa tahapan, yaitu: Seleksi Administrasi pada 21–23 Agustus 2025 secara daring. Tes Tulis dan Wawancara pada 25–27 Agustus 2025 secara luring. Pengumuman hasil seleksi pada 30 Agustus 2025. Pada saat wawancara, peserta diwajibkan membawa seluruh berkas persyaratan. Peserta yang tidak membawa berkas lengkap akan dinyatakan gugur. Adapun persyaratan umum bagi peserta meliputi: belum menikah, tidak merokok, serta berusia maksimal 21 tahun saat dinyatakan lulus sebagai mahasiswa PPUT. Materi seleksi meliputi kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, penguasaan bahasa Arab dan baca kitab, pemahaman tarjih dan keulamaan, serta wawasan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Melalui beasiswa ini, UMM berkomitmen menghadirkan generasi ulama muda yang berkompeten, berwawasan luas, serta mampu berperan dalam pengembangan dakwah, tarjih, dan penguatan keilmuan Islam di masyarakat
Studium Generale dari Ali Muthohorin Wakil Walikota Malang alumni HKI UMM : Membekali Lulusan dengan Modal Ilmu, Integritas, dan Spirit Pengabdian

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar prosesi Yudisium Periode III Tahun 2025 pada Selasa, 12 Agustus 2025 bertempat di Aula GKB 3 UMM. Acara ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi untuk memasuki tahap baru pengabdian di tengah masyarakat. Selain prosesi yudisium, kegiatan ini juga diisi dengan Studium Generale yang menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ali Muthohirin, S.Sy., Wakil Wali Kota Malang sekaligus alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) FAI UMM. Kehadiran beliau menjadi kebanggaan tersendiri karena sosok alumni sukses dapat berbagi pengalaman, motivasi, sekaligus pesan moral bagi para lulusan agar senantiasa menebar manfaat, menjunjung kejujuran, dan menjaga marwah sebagai anak FAI. Dalam sambutan pembukaannya, pimpinan FAI UMM menegaskan bahwa yudisium bukan hanya seremonial kelulusan, melainkan pengukuhan status mahasiswa yang telah ditempa dalam tradisi akademik dan moralitas Islami. FAI UMM selama ini berkomitmen melahirkan sarjana yang tidak sekadar menguasai pengetahuan, tetapi juga berintegritas, siap menghadapi tantangan zaman, dan mampu menjawab kebutuhan umat. “Yudisium adalah awal perjalanan pengabdian. Setelah ini, para lulusan akan menghadapi dunia nyata dengan tantangan yang kompleks. Kami berharap, seluruh lulusan FAI UMM senantiasa menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebermanfaatan, serta semangat dakwah yang menyejukkan,” tegas Dekan FAI UMM dalam sambutannya. Dalam sesi Studium Generale, Ali Muthohirin, S.Sy. menyampaikan materi sarat makna dengan tema besar seputar pentingnya integritas dan kontribusi anak FAI di masyarakat. Menurutnya, ada dua prinsip dasar yang harus menjadi pegangan setiap lulusan FAI, yakni bermanfaat bagi orang lain dan menjaga kejujuran.“Anak FAI harus dikenal sebagai pribadi yang jujur, berintegritas, dan bermanfaat. Itu adalah identitas utama kita di masyarakat. Tidak peduli di bidang apapun kita berkarya—akademik, sosial, politik, maupun dakwah—kejujuran adalah fondasi yang tidak bisa ditawar,” ungkap Wakil Wali Kota Malang itu. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dalam konteks sosial dan politik, terdapat dua modal utama yang menjadi kunci kesuksesan, yakni legitimate of power dan social of power. Modal legitimasi kekuasaan dan modal sosial, menurutnya, hanya bisa diperoleh jika seseorang dipandang baik, dipercaya, dan diterima di tengah masyarakat. Ali juga menyinggung bahwa perjalanan seorang sarjana FAI tidak berhenti pada ijazah yang diterima. Modal ilmu yang diperoleh harus senantiasa diiringi dengan prinsip teologis dan spirit ajaran para salafus saleh—generasi pendahulu yang tulus mengabdi demi kemaslahatan umat. “Ilmu yang kalian peroleh harus menjadi bekal untuk mengabdi. Ingat, prinsip-prinsip teologis harus menjadi modal utama, sebab dari situlah lahir moralitas, etika, dan orientasi pengabdian. Salafus saleh mengajarkan kita untuk menjadikan ilmu sebagai alat pengabdian, bukan sekadar alat mencari keuntungan,” tegasnya. Menurut Ali, mahasiswa FAI UMM telah mendapatkan bekal pendidikan yang tidak hanya akademik, tetapi juga spiritual dan moral. Hal ini yang membedakan lulusan FAI dengan lulusan perguruan tinggi lainnya. Dengan ciri khas ini, ia meyakini lulusan FAI memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat. Tantangan Teknologi dan Perubahan Sosial Di sisi lain, Wakil Wali Kota Malang ini juga mengingatkan para lulusan akan tantangan besar yang dihadapi generasi sekarang, yakni derasnya arus teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat. Digitalisasi, globalisasi, dan disrupsi informasi menuntut lulusan untuk adaptif, kreatif, sekaligus kritis dalam menyikapi perkembangan zaman. Namun demikian, ia menegaskan bahwa ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, yaitu nilai agama dan moralitas. Nilai-nilai inilah yang menjadi peluang besar sekaligus pembeda bagi anak FAI. “Teknologi bisa menggantikan banyak hal, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan nilai agama dan moralitas. Inilah peluang sekaligus tantangan kalian. Anak FAI harus hadir sebagai penjaga moral, penyebar kebaikan, sekaligus penggerak perubahan yang tetap berpijak pada nilai-nilai agama,” ujarnya. Ali juga menegaskan bahwa setiap lulusan membawa nama baik FAI UMM ketika terjun ke masyarakat. Karena itu, menjaga perilaku, integritas, dan kontribusi positif adalah kewajiban.“Di mata masyarakat, kalian adalah wajah FAI UMM. Jadilah sosok yang dianggap orang baik. Ketika kalian dipercaya masyarakat, maka modal sosial dan legitimasi itu akan hadir dengan sendirinya. Itulah modal utama untuk menjadi pemimpin, penggerak, atau apapun peran yang kalian emban di tengah masyarakat,” pesannya. Acara Yudisium Periode III FAI UMM Tahun 2025 diakhiri dengan doa bersama dan sesi foto. Suasana penuh haru menyelimuti aula ketika para peserta yudisium menerima ucapan selamat dari dosen dan jajaran pimpinan fakultas. Melalui yudisium ini, FAI UMM berharap setiap lulusan mampu melangkah ke dunia kerja dan pengabdian dengan bekal ilmu, moralitas, serta semangat Islami yang kokoh. Prinsip teologis, nilai moral, dan integritas harus terus dijaga agar para alumni tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga membawa manfaat luas bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.(Humas FAI))
FAI UAD dan FAI UMM Perkuat Kolaborasi Melalui Benchmarking dan Penandatanganan MoU

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta melakukan kunjungan benchmarking dan penjajakan kerjasama ke Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) pada Jumat, 8 Agustus 2025, bertempat di ruang Micro Teaching FAI UMM. Rombongan FAI UAD terdiri atas tiga unsur dekanat, tiga laboran, dan sembilan tenaga kependidikan (tendik). Acara diawali dengan sambutan hangat dari Dekan FAI UMM, Prof. Dr. Khozin, M.Si., yang menyatakan kegembiraannya atas kunjungan antarkerabat PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah). Menurut beliau, kunjungan ini adalah wujud ukhuwah yang terus diperkuat, sekaligus momentum strategis untuk saling berbagi praktik terbaik—mulai dari pengelolaan akademik, fasilitas laboratorium, hingga strategi penerimaan mahasiswa baru (PMB). “Kami menyambut dengan sangat baik kunjungan dari FAI UAD. Ini menjadi kesempatan berharga untuk saling bertukar pengalaman dan memperkuat layanan akademik maupun nonakademik. Semoga melalui kunjungan ini, kerja sama akan segera diwujudkan secara nyata bertumpu pada bidang akademik, riset, dan pengembangan lembaga,” jelas Prof. Khozin. Dilanjutkan oleh sambutan Dekan FAI UAD, Dr. Arif Rahman, M.Pd.I., yang menyampaikan rasa syukur atas sambutan hangat dari FAI UMM. Beliau menegaskan bahwa tujuan utama benchmarking adalah mempererat ukhuwah sekaligus membuka peluang kolaborasi praktis. “FAI UMM telah menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai segi, termasuk inovasi akademik dan pelayanan. Kami berharap banyak belajar dari pengalaman FAI UMM untuk diterapkan di lingkungan FAI UAD,” ujar Dr. Arif Rahman. Ia menambahkan, “Kini saatnya PTMA berjalan bersama, bukan sendiri—sinergi adalah kunci menuju kemajuan bersama.” Setelah dialog, rombongan diajak melakukan tur kampus menggunakan mobil buggy. Agenda ini mencakup kunjungan ke kantor fakultas, ruang dosen, ruang kelas, serta berbagai laboratorium—termasuk Micro Teaching Room dan Laboratorium Syariah yang menjadi pusat pembelajaran inovatif. Para laboran dan tendik FAI UAD terlihat antusias berdiskusi dengan kolega mereka di FAI UMM, khususnya soal manajemen laboratorium, sistem administrasi, dan layanan akademik yang tertata rapi. Pengalaman langsung ini memberi pemahaman konkret atas operasional kampus berbasis layanan prima. Sebagai puncak kegiatan, dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara FAI UAD dan FAI UMM. MoU ini menjadi tonggak awal kerjasama resmi yang mencakup: Pertukaran mahasiswa dan dosen antar-fakultas. Penguatan riset bersama (joint research). Program pelatihan dan pengabdian masyarakat. Koordinasi strategi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). MoU ini bukan sekadar bentuk administratif, melainkan wujud komitmen kedua institusi untuk berjalan bersama dalam pengembangan kualitas pendidikan Islam di lingkungan PTMA. Kegiatan benchmarking ini tidak hanya sebagai ajang kunjungan, tetapi sebagai fondasi sinergi antar-perguruan tinggi. Bagi tendik dan laboran FAI UAD, pengalaman ini menjadi refleksi nyata layanan modern yang dapat diadaptasi di kampus masing-masing. Bagi mahasiswa, momentum ini membuka peluang besar: dari pertukaran akademik, riset kolaboratif, hingga pelatihan lintas fakultas yang memperkaya kurikulum dan pengalaman belajar. Secara keseluruhan, kunjungan benchmarking FAI UAD ke FAI UMM pada 8 Agustus 2025 berjalan lancar, penuh kehangatan, dan sarat dengan nilai ukhuwah. Dengan adanya penandatanganan MoU, kini terbuka jalan kolaborasi nyata dan berkelanjutan—tidak hanya bagi sivitas akademika kedua fakultas, tetapi juga bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan secara lebih luas. Semoga sinergi ini segera berbunga—menciptakan program-program inovatif, riset kolaboratif, dan peluang baru yang memperkuat peran Fakultas Agama Islam sebagai lembaga unggul berdaya saing global.(Humas FAI)
Rekonstruksi Kurikulum HKI FAI UMM: Wujudkan Lulusan Profesional, Adaptif, dan Berdaya Saing
Malang, 7 Agustus 2025 – Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM), menggelar kegiatan Rekonstruksi Kurikulum yang dilaksanakan di Sengkaling, pada Kamis (7/8). Kegiatan ini mengusung tema “Kurikulum HKI yang Berdampak: Keilmuan, Digitalisasi, dan Kewirausahaan untuk Mencetak Lulusan Profesional”. Melalui forum ini, HKI FAI UMM berkomitmen memperkuat relevansi kurikulum agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus melahirkan lulusan yang unggul dalam keilmuan, adaptif terhadap perkembangan digital, serta berjiwa wirausaha. Ketua Program Studi HKI Muhammad Arif Zuhri Lc.,M.H.I , menyampaikan bahwa rekonstruksi kurikulum menjadi langkah strategis untuk menyiapkan mahasiswa tidak hanya sebagai ahli hukum keluarga, tetapi juga sebagai profesional yang siap terjun di berbagai sektor. “HKI tidak boleh berhenti hanya pada tataran teoretis, melainkan harus membekali mahasiswa dengan keterampilan digital dan semangat kewirausahaan agar bisa berkontribusi nyata di masyarakat,” ujarnya. Kegiatan ini menghadirkan jajaran dosen, pakar kurikulum, serta mitra eksternal untuk memberikan masukan konstruktif. Dengan kolaborasi ini, diharapkan kurikulum HKI FAI UMM semakin selaras dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman. Melalui rekonstruksi kurikulum ini, FAI UMM menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dalam mencetak generasi sarjana hukum Islam yang profesional, berdaya saing global, dan siap menghadapi tantangan era digital.
HKI UMM Antarkan Mahasiswa Magang CoE CLS ke Kantor Mavens IP Consulting Service Pererat Kerjasama, FAI UMM Dorong Mahasiswa Siap Terjun di Dunia Profesional HAKI

Malang – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memfasilitasi mahasiswa untuk belajar langsung di dunia kerja. Pada Selasa, 29 Juli 2025, FAI UMM secara resmi mengantarkan mahasiswa program unggulan Center of Excellence (CoE) Corporate Law Firm (CLS) untuk memulai kegiatan magang di Kantor Mavens Intellectual Property Consulting Service, sebuah kantor konsultan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) terkemuka di Kota Malang. Kegiatan pengantaran ini dilakukan langsung oleh Dosen Pendamping Lapang, Imroatus Solihah, S.H., S.Sy., M.H. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapannya agar mahasiswa dapat memperoleh pengalaman kerja yang bermakna, serta mengasah keterampilan hukum praktis khususnya di bidang kekayaan intelektual. “Mahasiswa kami kami titipkan untuk benar-benar digembleng dan ditempa dengan pengalaman nyata di dunia kerja, khususnya di bidang hukum kekayaan intelektual yang menjadi fokus Mavens IP Consulting Service. Kami berharap kerjasama ini tidak hanya berhenti pada magang, tetapi dapat berlanjut dalam bentuk Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Arrangement (IA) ke depan. Tentu harapan kami yang terbesar, mahasiswa CoE CLS FAI UMM dapat diserap menjadi tenaga profesional di Mavens setelah lulus,” tutur Imroatus Solihah di hadapan tim Mavens dan mahasiswa peserta magang. Profesionalisme Mavens IP Consulting Service di Bidang HAKI Dalam kesempatan yang sama, Konsultan HAKI senior dari Mavens Intellectual Property Consulting Service, Moh. Fahrial Amrulla, S.H., M.H., turut menyambut kehadiran para mahasiswa dengan antusias. Dalam penjelasannya, Fahrial menyampaikan bahwa dunia kerja khususnya di bidang HAKI menuntut profesionalisme tinggi, ketelitian, dan pemahaman mendalam mengenai regulasi dan praktik kekayaan intelektual baik di level nasional maupun internasional. “Di Kota Malang, hanya ada tiga konsultan HAKI resmi yang aktif, dan saya salah satunya. Artinya, kesempatan untuk belajar langsung di kantor seperti Mavens ini adalah peluang langka. Di sini kami telah terbiasa menangani klien dari berbagai sektor, baik individu kreatif, perusahaan lokal, hingga institusi yang ingin melindungi merek dagang, paten, hak cipta, dan desain industri mereka. Kami harap adik-adik mahasiswa dapat belajar secara maksimal, dan tidak hanya memahami teori, tapi juga praktik profesional dalam melayani klien,” ujar Fahrial. Ia menambahkan, Mavens Intellectual Property Consulting Service berkomitmen untuk memberikan pengalaman terbaik bagi mahasiswa magang agar mereka memiliki kesiapan mental dan kompetensi untuk bersaing di dunia kerja yang kompetitif, terutama di ranah hukum kekayaan intelektual yang semakin vital di era digital. Mahasiswa Senang dan Antusias Magang di Mavens Tiga mahasiswa CoE CLS FAI UMM yang akan menjalani magang, yaitu Bagus, Uwais Al Qorni dan Agid Yukafi Ghinan, menyampaikan rasa syukur dan antusiasme mereka. Bagi Uwaiq, magang di Mavens merupakan realisasi dari keinginannya untuk belajar langsung dari praktisi HAKI. “Saya sangat senang dan bersyukur bisa diterima magang di Mavens. Ini benar-benar sesuai dengan fokus pembelajaran CoE Corporate Law Firm yang kami jalani di kampus. Saya ingin memperdalam ilmu tentang HAKI dan mendapatkan pengalaman langsung dalam menangani kasus-kasus nyata di bidang ini,” ungkap Uwais al Qorni. Sementara itu, Agid Yukafi Ghinan menyampaikan kesan positifnya terhadap suasana kantor dan tim di Mavens IP Consulting Service. Menurutnya, lingkungan kerja yang nyaman akan mempengaruhi semangat dan produktivitas. “Saya merasa sangat diterima dengan baik di sini. Tim di Mavens sangat ramah, dan suasana kantor estetik seperti kafe modern. Bekerja di tempat seperti ini tentu tidak membuat bosan, malah membuat saya semakin semangat. Saya yakin akan banyak belajar di sini dan bisa mengasah keterampilan hukum secara langsung,” ujar Agid. Menuju Kerjasama Strategis Berkelanjutan Kegiatan pengantaran mahasiswa magang ini tidak hanya menjadi momen awal pembelajaran lapangan, namun juga menjadi bagian dari upaya strategis FAI UMM untuk menjalin dan memperkuat kerjasama dengan dunia industri hukum. Imroatus Solihah menegaskan pentingnya kolaborasi kampus dengan dunia kerja sebagai bagian dari implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Ke depan kami ingin MoA dan IA dengan Mavens segera terwujud agar sinergi antara FAI UMM dan Mavens IP Consulting Service dapat terus berkembang. Tidak hanya untuk magang, tapi juga riset bersama, seminar, dan peluang kerja bagi lulusan kami,” imbuh Imroatus Solihah. Dengan program CoE Corporate Law Firm, FAI UMM menargetkan lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki soft skill dan hard skill yang dibutuhkan di dunia industri hukum, termasuk di bidang kekayaan intelektual yang terus berkembang. Kegiatan magang ini dijadwalkan berlangsung selama tigabulan ke depan, dan diharapkan menjadi pijakan awal bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dalam dunia hukum kekayaan intelektual serta membangun jejaring profesional demi masa depan karir yang gemilang. (im)