
Malang – Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Bagus Adi, menulis sebuah artikel opini bertajuk “Refleksi Satu Abad NU: Menjaga Khittah di Tengah Tarikan Kepentingan Politik”. Artikel tersebut mengulas perjalanan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus menyoroti tantangan organisasi keagamaan dalam menjaga konsistensi nilai di tengah dinamika politik kebangsaan.
Dalam tulisannya, Bagus Adi menekankan bahwa NU sejak awal berdiri tidak hanya berperan sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai pilar sosial dan kebangsaan yang berkontribusi nyata bagi masyarakat Indonesia. Nilai-nilai moderasi beragama, toleransi, dan keadilan sosial disebut sebagai fondasi utama yang membuat NU tetap relevan hingga usia satu abad.
“Refleksi satu abad NU seharusnya menjadi momentum untuk menguatkan kembali khittah organisasi, bukan justru terjebak dalam kepentingan politik jangka pendek,” tulis Bagus Adi dalam artikelnya. Ia menilai bahwa keterlibatan NU dalam ruang publik harus tetap berorientasi pada kemaslahatan umat dan kepentingan bangsa secara luas.
Artikel tersebut juga menyoroti peran strategis NU dalam bidang pendidikan dan kemanusiaan. Menurut Bagus Adi, keberadaan ribuan pesantren dan lembaga pendidikan di bawah naungan NU menjadi bukti konkret kontribusi organisasi ini dalam mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan moral dan sosial.
Di sisi lain, Bagus Adi mengingatkan adanya tantangan serius yang dihadapi NU ke depan, khususnya terkait relasi antara elite organisasi dan kekuasaan politik. Ia menilai, apabila tidak dikelola secara bijak, dinamika tersebut berpotensi menggeser orientasi perjuangan NU dari kepentingan umat menuju kepentingan elite tertentu.
Sebagai mahasiswa HKI, Bagus Adi mengaku tertarik mengkaji NU tidak hanya dari sudut pandang keagamaan, tetapi juga dari perspektif hukum dan keadilan sosial. Ia berharap tulisannya dapat menjadi bahan refleksi bersama, khususnya bagi generasi muda NU, agar tetap kritis dan konsisten dalam menjaga nilai-nilai perjuangan para pendiri organisasi.
Melalui artikel ini, Bagus Adi berharap NU di usia satu abad mampu meneguhkan kembali perannya sebagai penjaga moral bangsa serta tetap berpihak pada kepentingan masyarakat luas. “Tantangan NU hari ini bukan lagi soal eksistensi, melainkan konsistensi dalam merawat peradaban,” tulisnya.